Potensi

INDUSTRI RUMAHAN CETAKAN KAYU SEPATU, SANDAL DAN SEPATU

Kawasan Desa Kotabatu kecamatan Ciomas Kabupaten Bogor semenjak lama dikenal sebagai sentra penghasil cetakan kayu sepatu, sandal dan sepatu rumahan di Bogor. Di kawasan ini, banyak masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari industri tersebut, lewat keahlian turun temurun yang dimiliki mereka.

Bak jejaring sosial, industri sandal dan sepatu mampu menyerap tenaga kerja di wilayah ini. Ada tak kurang lima RW di wilayah Desa Kotabatu, yang menjalani profesi ini, pengrajin sepatu dan sendal itu belum dihitung dengan yang di wilayah Ciomas.

Industri rumahan ini, banyak memberi dukungan positif kepada pemerintah daerah Bogor, terutama mengentaskan nasib para anak putus sekolah, maupun pengangguran yang terserap di industri sandal dan sepatu rumahan di sini.

Meski mendukung pembangunan Kota Bogor, sebaliknya dukungan dari Pemda Bogor hingga saat ini patut dipertanyakan, apalagi kalangan UKM yang minim dukungan ini tetap hidup hingga kini.

Bila Anda singgah di Desa Kotabatu , salah satu kawasan di Kecamatan Ciomas  Bogor  untuk melihat lebih dekat kehidupan, hingga perputaran industri sendal dan sepatu, jangan harap anda akan melihat mesin-mesin pemotong, pelebur bahan baku, mesin jahit modern, yang produksi secara besar-besaran layaknya di pabrik. Yang ada, hanya mesin-mesin sederhana, sebagian diantaranya buatan tangan para perajin sendal dan sepatu, untuk kegiatan mereka.

Demikian pula dengan taraf hidup. Jarang diantara mereka kecuali yang benar-benar sudah mapan, memiliki rumah gedongan, sebagian besar justru hidup sederhana di rumah-rumah kecil, yang menyatukan tempat tinggal dengan ”bengkel” pembuatan sendal mereka.

Segmen Menengah-Bawah
Jika ingin jujur, industri ini hanya membesarkan para pemilik modal, penyedia bahan baku, atau para penjual, yang datang dari luar Kota Bogor. Sementara bagi para pengrajinnya, hidup sederhana, kecuali beberapa diantaranya yang memiliki niat kuat, merubah status dari seorang buruh pengrajin sepatu-sendal, menjadi pengusaha Sepatu-sendal yang diproduksi di lokasi ini, kebanyakan untuk segmen kalangan menengah ke bawah, yang kisaran harga dipasarannya dari Rp 30.000 – Rp 50.000 sepasang.

Pemasaran usaha sepatu dan sendal dari kawasan Bogor, dipasarkan ke seluruh nusantara. Meski, terkadang ada juga pembeli yang datang langsung. Mereka umumnya pemilik grosir yang ingin mendapatkan harga lebih murah, memotong jalur distribusi dari para agen, yang berasal dari Jawa, Bandung, Sumatera, dan sebagainya.

Semenjak industri sendal mulai merebak di wilayah ini, banyak kalangan pengusaha Cina maupun kalangan pengusaha Minang yang datang. Mereka umumnya membuka bengkel, berdagang kebutuhan, yang kebanyakan pekerjanya adalah warga sekitar.

Kapasitas order sepatu, khususnya akan ramai pada dua atau tiga bulan sebelum bulan puasa. Ini karena banyak toko mulai menyetok barangnya, setelah lebaran permintaan praktis sepi. Permintaan akan meningkat kembali, jelang kenaikan kelas atau tahun ajaran baru bagi anak sekolah. Di waktu-waktu ini banyak perajin yang menangguk untung.

Sementara, untuk produk sendal bisa dikatakan ordernya konstan, hal ini terutama karena sendal memang dibutuhkan banyak orang dan sering berganti-ganti penggunaannya dalam setahun, berbeda dengan sepatu.

Butuh Kejelian Mengikuti Pasar
Adalah Soleh (39) yang kerap disapa Kang Ole’, salah seorang profil anak muda yang hingga kini masih tekun menjalankan industri sendal rumahan ini, padahal dia mengakui usaha yang digelutuinya ini, akan sulit jika harus menjamin masa tua.

Karena kadung jatuh cinta dengan usaha ini jadilah usaha sendal sebagai tumpuan nafkah ayah tiga orang putra ini. Oleh karena itu, dia memutuskan untuk menekuninya beberapa tahun belakangan ini secara serius sebagai pengusaha sepatu dan sendal, alias ‘Bos Kecil’, begitu ia menyebutnya.
Sepintas cukup hanya paham atau ahli memainkan mata pisau, memotong spon atau menjahit, jika ingin menjadikan usaha ini sebagai sandaran hidup. Namun ternyata tidak hanya itu.

Disamping mesti ahli menjalankan produksi, para ”bos kecil” macam Ole’ harus mengerti model. Model ini biasanya diajukan oleh pihak pengumpul atau agen yang memintanya, meski terkadang pihaknya juga mengajukan model-model tertentu ke para agen tersebut.

Model sepatu atau sendal yang diuji coba di pasar, biasanya jumlahnya hanya beberapa kodi (20 pasang per kodinya -red). Dari situ, lantas order dari para agennya datang, biasanya memang berjumlah puluhan kodi, jika berhasil di pasaran. Jika tidak, tentu sebaliknya.

Jadi Sandaran Hidup
Ole’ sendiri semenjak SD sudah mulai berkecimpung membantu pamannya yang pengrajin sendal. Semua dimulainya dari dasar, semenjak membuat pola, membentuk potongan pola, menggerinda, melatih feeling terkait bentuk kaki, dan sebagainya. Sudah sekitar 30 tahun dia berkecimpung di usaha sepatu dan sendal.
Awalnya, lelaki kelahiran Jakarta ini adalah seorang lulusan STM Mesin, yang ketika lulus sempat bekerja dua tahun sebagai buruh pabrik salah satu merk motor pabrikan di Bekasi. Tetapi, karena biaya hidup di Bekasi jauh melebihi penghasilan, akhirnya diputuskan pulang kampung dan berusaha mengembangkan usaha ini.

Kapasitas produksi sepatu perhari dari bengkelnya, tak kurang 10 kodi, jumlah tersebut didukung oleh sembilan orang pekerjanya. Kapasitas tersebut bergantung dari tingkat kesulitan pesanan dan motivasi dari pekerjanya sendiri.

Sekilas dijelaskan proses membuat sendal atau sepatu. Langkah pertama adalah penyiapan pola, sesudahnya dilakukan penjahitan pola. Rampung melakukan hal itu, disusul penyatuan pola yang sudah dijahit, dengan sol atau bagian bawah sepatu, hingga proses perapihan.

Alat yang digunakan, bisa dibilang sederhana, yang biasanya berupa mesin jahit, kaka tua, asahan, cetakan kaki (list), mesin press sederhana, jika produk memerlukan penggunaan mesin press, ataupun mesin gerinda, pada produk sendal berspon.

Di saat ramai, omset permintaan sepatu perbulannya berkisar 40-50 kodi. Order tersebut diperolehnya tidak dari satu agen, melainkan beberapa agen. Sementara, pada bulan-bulan sepi, kira-kira10 kodi pesanan per bulan yang dikerjakannya.

Dari pesanan tersebut dia mengambil keuntungan Rp 5000 per pasang. Sehingga, Rp 4-5 juta per proyek bisa dikantonginya. Jumlah tersebut tentu setelah dikurangi biaya tenaga kerja, plus material pembuatannya, serta makan dan minum para karyawannya selama tiga kali di workshop miliknya.

Uniknya, menurut penuturan Ole’ pada awalnya tak banyak yang bisa membuat sendal di kawasan ini. Salah seorang pionir usaha ini adalah kerabat sekaligus mertuanya, Natawi, yang pertama kali membuka bengkel pembuatan sepatu dan sendal.

Natawi bersama dua orang rekannya yang lain, sebelumnya membuat sepatu-sepatu kantoran, di era 60-70 an. Natawi cs bekerja sebagai pengrajin sepatu dan sendal di beberapa tempat di Jakarta, seperti di Jembatan Lima dan Kemayoran, Jakarta.

Setiap minggu mereka pulang kampung ke Bogor, akhirnya mereka membuat usaha sendiri di wilayah ini. Dari sini, keahlian membuat sepatu dan sendal menyebar ke masyarakat wilayah Ciomas, Cikaret, Cibogel, Sindang Barang, hingga kawasan Empang, arah Kota Bogor.

Dibelit Kendala
Disamping iklim persaingan yang relatif ketat, kendala lain juga dihadapi para perajin, yang terutama adalah struktur permodalan. Sebab, jika ingin mengikuti hasil produk-produk Cina, menurutnya pengrajin tidak akan mampu. ”Sulit untuk mengikutinya. Termasuk sulit jika berurusan dengan bank untuk perbesaran usaha, jika tidak punya jaminan,” tambahnya.

Selama tiga tahun ini, modal justru berasal dari agen pemilik toko, bukan dari mana-mana. ”Bermodal kepercayaan,” urainya. Bahkan dikatakannya, semakin lama, menjalankan usaha ini semakin sulit, sebabnya, serbuan produk Cina yang kini menguasai pasar.

Disamping itu, yang kerap mengganggu adalah pemadaman listrik oleh PLN, karena biasanya akan mengganggu waktu lembur, terutama jumlah pesanan jadi tidak maksimal dikerjakan, yang buntutnya komplain dari pengorder yang kirimannya terlambat. Padahal, mereka termasuk para agen, ingin pesanan tepat waktu setiap minggunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: